bournesofdaytona.com – Aceh mengalami deflasi sebesar 0,15 persen pada Januari 2026, setelah dilanda bencana banjir dan tanah longsor dua bulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mengungkapkan bahwa penurunan harga ini tercatat dalam laporan yang disampaikan oleh Plh Kepala BPS, Tasdik Ilhamudin, di Banda Aceh.
Deflasi ini terutama disebabkan oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi mencapai 2,01 persen, memberikan kontribusi 0,79 persen terhadap penurunan harga secara keseluruhan. Beberapa komoditas yang berperan dalam deflasi bulanan mencakup telur ayam ras, cabai merah, beras, bahan bakar rumah tangga, dan minyak goreng.
Namun, secara tahunan, Aceh mencatat inflasi sebesar 6,69 persen dibandingkan Januari 2025, yang menunjukkan bahwa harga barang dan jasa secara umum telah meningkat. Kontribusi tertinggi terhadap inflasi tahunan berasal dari kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, yang menyumbang 2,46 persen.
Melihat lebih jauh, terdapat lima daerah penghitungan inflasi di Aceh: Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang. Inflasi tahunan tertinggi tercatat di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 8,60 persen, sementara terendah di Meulaboh, Aceh Barat, dengan 5,55 persen. Untuk inflasi bulanan, Kota Lhokseumawe mengalami inflasi tertinggi sebesar 0,86 persen, sedangkan Kota Banda Aceh mencatat deflasi terdalam sebesar 0,81 persen.
Dengan perkembangan ini, BPS terus memantau stabilitas harga untuk memberikan informasi yang akurat bagi masyarakat dan pengambil kebijakan.